Home

rock n roll musik IND

Melihat ke belakang, ke sejarah masa lalu industri musik, perlu kita lakukan untuk mengetahui dimana kita berada saat ini. Kita juga akan memiliki ukuran, sejauh mana kita sudah melangkah lebih baik, atau sedalam apa kita sudah terperosok ke dalam jurang kemunduran.

Upaya merekam data sejarah industri musik Indonesia, dilakukan oleh Theodore KS, seorang penulis / wartawan senior surat kabar terkemuka  Kompas, dalam bukunya berjudul Rock N Roll Industri  Musik Indonesia (Penerbit Buku KOMPAS ; Nov 2013).

Buku ini merekam secara lengkap perjalanan industri musik di Indonesia, sejak periode awal kegiatan rekaman suara di jaman pendudukan Belanda di Indonesia, sampai era musik digital saat ini. Penulis benar-benar memberikan data akurat, yang berlimpah di setiap pembahasan periode nya.

Bab dalam buku ini disusun dalam kronologis waktu, mulai dari periode awal perekaman suara di masa pendudukan Belanda, lalu era produksi kaset di bab berikutnya, berlanjut terus sampai era ring back-tone dan seterusnya.

Membaca buku ini, tidak hanya serasa memasuki mesin-waktu yang membawa kita pada kilas balik kegiatan rekaman suara di Indonesia. Tapi buku ini menyajikan detail data, yang pasti nya perlu kerja keras dan waktu yang lama dalam pengumpulan nya.

Misalnya saja, di buku ini secara detail menyajikan data artis yang merekam lagunya diatas piringan hitam di era paska kemerdekaan. Disebutlah sebuah perusahaan rekaman dg label Irama, didirikan pada 17 Mei 1951. Lalu disebutkanlah sejumlah penyanyi dan judul album yang direkam oleh Irama, di era awal piringan hitam di Indonesia. Saya terpesona dengan detail data yang menyebutkan nama penyanyi, tahun rilis, lengkap dengan nama orkes / band pengiring nya. (Bab 1 ; Masa PH Masa Perawan).

Setelah membaca buku ini, saya jadi ingin mengunjungi Lokananta di Solo. Sebuah lembaga reproduksi rekaman pertama yang dimiliki Indonesia, di dirikan tahun 1955. Lokananta merekam sejumlah lagu, dan di re-produksi ke dalam format piringan hitam, untuk disebarkan ke seluruh radio pemerintah, RRI, yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di bagian lain, penulis dengan fasih mendeskripsikan keuntungan label rekaman yang merilis album dari luar negeri dalam format kaset. Seperti diketahui bahwa seluruh album artis / penyanyi dari luar negeri yang beredar di Indonesia sebelum tahun 1988, adalah produk tanpa lisensi alias bajakan. Album tanpa lisensi berformat kaset ini menjadi bisnis yang menggurita di Indonesia saat itu. Menarik membaca prosentase biaya produksi, berbanding keuntungan yang di dapat oleh perusahaan rekaman saat itu, (Bab 3 : Asiri, PAPPRI, YKCI, AMI, Wami)

Dalam buku ini juga penulis mencoba mengguncang kita dengan kesadaran bahwa, pelanggaran hak cipta musik di Indonesia sangat kronis. Meskipun kita sama-sama tahu, bahwa produk musik bajakan dan musik yang di download secara gratis, adalah pembunuh utama dari industri ini. Bab terakhir di buku ini secara kronologis menampilkan bagaimana urusan hak cipta di Indonesia, tidak dihargai. (Bab 7 : Antologi Masalah Hak Cipta 1969 – 2012).

Buku ini menyajikan pada kita data-keras, yang belum tentu bisa disajikan oleh penulis lain. Maklumlah, sebagai seorang wartawan senior salah satu surat kabar tertua di Indonesia, pastinya ia memiliki akses ke sumber informasi. Penulis bisa mendapatkan data resmi dari perusahaan rekaman, asosiasi artis dan rekaman, penyelenggara festival, bahkan perjalanan nya meng-interview sejumlah artis papan atas di negeri ini, tersaji lengkap dalam buku ini.

Keunggulan buku ini, jelas ada di akurasi dan kelengkapan data nya. Buku ini bisa dijadikan rujukan bagi siapa saja yang memerlukan data untuk penelitian atau penulisan artikel ilmiah, tentang musik di Indonesia.

Sebenarnya saya berharap,  ada narasi dan cerita human-interest dalam beberapa fakta sejarah, tersaji di buku ini. Misalnya saja, sebagai generasi yang tumbuh di era akhir 80-an, saya berharap banyak cerita tersaji tentang kehidupan band yang pernah, dan merajai panggung saat itu seperti God Bless, The Rollies, anak-anak Menteng / Cikini dengan sejumlah karya musik nya seperti Gank Pegangsaan dan Chrysye (alm).

Tapi sekali lagi, keunggulan buku ini adalah pada berlimpahnya hard-data, bukan pada cerita sejarah ‘kecil’ yang dilakukan oleh Rosihan Anwar pada buku Sejarah Kecil Indonesia, misalnya. Saya berharap penulis bisa memecah buku ini menjadi sejumlah buku turunan nya, berisi sejumlah cerita dan fakta yang jarang dikemukakan oleh media resmi.

Ini layak dilakukan, mengingat terbatas nya informasi terutama pada artis era 70-an, sampai awal 80-an. Era informasi terbuka, apalagi social-media, belum ada pada saat itu. Sehingga sangat mungkin, para fans melewatkan beberapa detail cerita tentang band / artis pujaan mereka. Penulis sangat mungkin menuliskan kisah pelaku industri musik di era tersebut, karena kedekatan nya dengan sumber-sumber informasi.

Buku ini, layak dimiliki bagi yang ingin memiliki wawasan tentang seberapa jauh bangsa kita melangkah, di medan pertempuran industri musik yang pasang-surut. Untuk para penikmat musik di Indonesia, buku ini layak di tempatkan dalam satu rak, bersama koleksi rekaman yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s