Home

rollies 1st LP

Jika kita harus menyebut satu grup band tanah air, yang pernah berjaya sampai keluar negeri sejak dekade akhir 60 an sampai sekarang, bolehlah menyebut The Rollies. Kita pun boleh menyebut mereka, jika ingin mencontohkan perjuangan sebuah band dari awal karir lalu menuju puncak lalu terpuruk dan berakhir sebagai legenda.
Berawal di tahun 1968 ketika Deddy Stanzah alm.(rocker legendaris Indonesia yg selain vokalis, juga pemain bass), mengajak Delly Djoko Alipin (Gitar, Organ, Vokal), Iskandar (Gitar, Vokal), Iwan Krishnawan (Drum)  membentuk sebuah band dengan image layaknya band british invasion. Mereka memulai dengan membawakan sejumlah repertoar dari band seperti The Beatles, The Hollies, dan Rolling Stones.
Di tahun itu juga bergabunglah vokalis yg kelak dikenal dengan nama Gito Rollies (bernama asli Bangun Sugito). Dengan formasi yg lengkap dan mantap, mereka siap mengguncang arena musik di Indonesia. Benar saja, mereka bahkan sudah bisa melambungkan namanya di luar negeri. Saat itu mereka sudah dikontrak sebagai band tetap di Capitol Singapura.
Di tanah air, nama mereka menjadi buah bibir sebagai raja panggung musik rock yg saat itu menjadi bisnis yg berkembang. Dalam perjalan nya, mereka memperkaya musik mereka dengan memasukan brass-section (alat tiup). Di sekitar tahun 1969, diluar negeri sana, sedang dilanda demam musik berbasis alat tiup, dan salah satu yg menjadi inspirator TR adalah band seperti Blood Sweat and Tears, dan Chicago Transit Authority. Keinginan memperkaya warna musik TR bisa terwujud dengan bergabungnya Benny Likumahua yg multi talenta dalam memainkan alat musik, utamanya alat musik tiup. Tak kurang, seluruh personil TR diajarkan untuk memainkan alat musik brass. Bahkan vokalisnya, yg kelak lebih dikenal dengan nama Gito Rollies, selain bernyanyi ia juga memainkan terompet hasil gemblengan Benny.
Lengkaplah The Rollies sbg sebuah band yg seluruh personilnya bisa memainkan alat musik, dan seluruhnya bisa bernyanyi.
Petualangan TR dalam bermusik di periode awalnya boleh dibilang gemilang. Mereka menguji kesaktiannya dengan bermain di sejumlah klub di Singapore. Disitulah sejumlah band dari seluruh penjuru dunia, wara wiri menunjukan kebolehannya di pusat hiburan Asia pada masa itu. Dengan kekuatan personil dan kemampuan musikal yg baru, tanpa ragu ragu mereka kembali menerjang Singapore. Dengan memainkan repertoar dari musik beraliran funk-soul ala James Brown, mereka benar benar bisa memukau penikmat musik disana.
Simaklah  karakter vokal Gito layaknya James Brown yang parau parau seksi itu. Pada jamannya, jaranglah penyanyi dengan karakter seperti itu.
Prestasi TR tak berhenti sampai menjadi home band klub di negeri Singa Muntah itu. Salah satu perusahaan rekaman di Singapore, Philips, mengkontrak TR untuk merekam dua album disana. Album pertama berisi cover dari lagu dan musisi yg sudah terkenal seperti James Brown, Love Affair, dan Blood Sweat and Tears. Album kedua merupakan aransemen ulang dari lagu keroncong klasik dan folk-song seperti Arjati, Bandar Jakarta, Sansaro, dan banyak lagi. Entah siapa yg masih menyimpan album dalam bentuk piringan hitam tersebut.
Perjalanan mereka di Singapura berujung tragis. Tahun 1970, mereka mengalami kecelakaan mobil yg mengakibatkan seluruh personil band terluka parah. Bahkan sopir yg mengemudikan mobil yg mereka tumpangi, meninggal dunia.
Akhirnya Deddy Stanzah dan Gito kembali ke tanah air. Benny Likumahua dan personil lainnya masih berkiprah disana. Mereka melanjutkan kiprah TR sebagai band yg malang melintang jauh dari tanah air. Sementara itu, Deddy dan Gito membentuk band bernama Happiness sesampainya mereka di Indonesia.
Di Singapore, nasib Benny dkk sungguh tragis. Kontrak pentas mereka disana dihentikan oleh promotornya secara sepihak. Tapi disana mereka bertemu dg Bonny Nurdaya (gitaris Paramore yg ditinggalkan promotornya di Singapore), yg kelak akan menjadi pemain gitar TR. Iskandar yg semula memainkan gitar, menggantikan posisi Deddy Stanzah sebagai bassis.
rollies albums
Tahun 1970 Benny dan personil TR lainnya kembali ke Indonesia dan menyiapkan band ini untuk kembali menjadi raja panggung di tanah air. Mereka langsung di kontrak di Medan selama setengah tahun. Gito yg hatinya ada di TR, langsung menuju Medan dan memutuskan untuk bergabung kembali bersama mereka. TR memutuskan untuk bergabung kembali dan membuat rangkaian aksi yg kelak akan mencengangkan publik tanah air.
Tepat di awal tahun 1971, TR memutuskan untuk menjajal kebolehannya di Bangkok. Disanalah salah satu pusat bisnis hiburan di Asia, layaknya Las Vegas di Amerika. Benar saja, banyak band dari berbagai negara seperti Amerika, dan Italia meramaikan kota hiburan dunia itu. Konon TR merasa tak nyaman disana karena merasa tidak sebading dengan band dari Itali, Amerika dan negara lainnya. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Hanya Benny dan Delly yg tetap melanjutkan kiprah musiknya di Bangkok dg membentuk band yg terdiri dari orang Australia, Filipina dan Singapore.
Akhir tahun 1971 Benny dan Delly kembali ke Indonesia. Mereka kembali memperkuat TR yg saat itu mendapat tawaran untuk rekaman di bawah label Remaco. Deddy Stanzah kembali bergabung bersama TR di posisi bass. Lahirlah album yg cukup menjadi tonggak sejarah bagi mereka, berjudul Let’s Start Again.
Popularitas dan gaya hidup bak bintang rock dunia, membawa mereka pada berlimpahnya uang, puja puji, dan narkoba. Pada periode ini beberapa personil mulai kurang memperhatikan profesionalisme nya. Gito, Deddy, Iwan mulai asal asalan bermain di atas panggung. Beberapa kali terlambat datang latihan. Pernah tiba tiba ditengah pertunjukan, tiba tiba suara drum menghilang. Ternyata Iwan telah terkapar dalam keadaan mabuk.
Tapi TR adalah band dengan personil yg memiliki kekuatan musikalitas yg tinggi. Semua personil bisa bernyanyi dan semua memainkan alat musik nya. Sehingga mereka bisa saling menutupi, dan panggung tetap meriah dengan bebunyian alat musik yg mereka mainkan.
Deddy dikeluarkan dari band karena masalah kedisiplinan dan konsistensi nya bermusik, mulai menurun. Begitu juga Iwan, ia kemudian wafat tahun 1974. Personil lain mulai bebenah diri, melanjutkan hidupnya. Pilihan mereka saat itu adalah, melanjutkan impian menjadi bintang besar, atau berakhir sbg pemabuk yg menyedihkan.
Era kembalinya TR adalah ketika Jimmy Manopo (drum) dan Otje F Tekol (bass) bergabung memperkuat band. Otje selain player yg handal, juga adalah penulis lagu. Beberapa hits yg ia ciptakan diantaranya Hari Hari, dan Haus di Padang Tandus.
Periode ini adalah ketika TR berganti nama menjadi The New Rollies. Dibawah label Musica Studio, mereka merekam sejumlah album. Meski kemudian, perusahaan rekaman menghentikan kontraknya, karena musik TR dianggap tidak lebih komersil dengan band  sejamannya seperti Koes Plus, DLoyds, dan Bimbo.
Jika kita dengarkan album mereka di periode itu, sekarang, terasa bahwa album mereka seperti kumpulan lagu lagu pemenang festival. Maksud saya, pernah kah kalian mendengarkan album kompilasi pemenang festival seperti album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors tahun 70 an? Bukankah lagu lagu karya pemenang lomba,yg ada di album itu tidak terdengar seperti Koes Plus bahkan tipikal lagu cinta ala Rinto Harahap?  Itulah yg terdengar jika kalian mendengarkan album TR Vol 3 – Bimbi (1978) dan Vol 4 – Kemarau (1978).
rollies ultimate 2011
Sebenarnya, di periode ini pencapaian TR sudah berada di titik puncaknya. Hanya saja mereka terlihat lelah, atau sudah mulai menua untuk bersaing dg full band lainnya di era awal 80 an. Bertarung dg band baru yg memiliki musikalitas yg tinggi, seperti Karimata, Emerald, Krakatau dan band sejenis nya yg memasukan berbagai elemen musik dalam satu komposisi seperti jazz, soul, funk, dan tentunya nuansa musik pop yg kental.
Disinilah TR mulai galau dalam bermusik. Jika dikatakan bahwa mereka sdh tidak bisa menciptakan lagu bagus, saya pastikan bukan. Di periode ini Otje F Tekol malah aktif sebagai penulis dan arranger musik para penyanyi solo. Begitu juga Delly dan Jimmy yg malah bersolo karir. Memang di usia tertentu, sebuah band harus berhenti, untuk kemudian kembali lagi suatu saat nanti. Itupun jika publik masih menginginkan dan menyambutnya.
TR kembali di era 80 an dibawah label Sokha Record, menghasilkan album dan hits seperti Dunia Dalam Berita, Burung Kecil, Astuti, dan Problema. Ini adalah aksi reuni mereka yg berhasil. Otje F Tekol masih menyumbang sejumlah hits di periode itu.
Pertengahan 80 an, mereka harus menghadapi lagi kenyataan bahwa nama besar sebuah band,tidak menjamin langgengnya popularitas dan penerimaan publik.
Era musik laki-laki yg lebih rock mulai merangkak menuju dominasinya. Band band baru bermunculan dengan kualitas bermusik yg mantap, dan variasi konsep yg ditawarkan nya semakin menggiurkan.
TR mencoba kembali di era 90 an dg album Iya Kan (Sokha Studio ; 1990), dan album The New Rollies (Musica Studio ; 1997). Ini semakin membuktikan teori bahwa band legendaris sebaiknya tetap menjadi legendaris dengan cara ‘tidak menampakan diri ke publik dan tetap misterius’. Biarkan publik mengenang TR seperti yg ingin mereka kenang di era 70 an.
Saya temukan lagi album kompilasi TR yg di master ulang tahun 2011 berjudul The Rollies Ultimate Hits rilisan Bravo Musik. Tadinya saya berharap bisa mendengarkan lagu di era Deddy Stanzah sampai era Otje F Tekol di Musica. Tapi ternyata album itu hanya berisi rilisan TR di era 80 an. Bahkan sebagian besar lagu di album kompilasi itu, berisi lagu yg dinyanyikan Gito pasca The Rollies. Sebut saja lagu Air Api, Jarum Neraka, Anak Jalanan, Api Telah Padam, Kartika (duet dg Ahmad Albar). Bahkan ada single yg dinyanyikan Deddy Stanzah di era pasca TR, berjudul Hari Hari.
Untuk pendengar generasi baru (seperti saya) kompilasi lagu di album ini bisa membuat dis-informasi. Apalagi tidak ada keterangan detail ttg lagu dan dari album mana album tsb diambil. Bayangkan ada pendengar baru yg menyangka bahwa lagu Kartika (yg dipopulerkan Ahmad Albar-God Bless) adalah lagu nya TR. Pun lagu-lagu single Gito di album itu, tidak diambil dari album TR sama sekali.
Tapi masih oke, ada label yg berusaha me-master ulang karya lama. Sudah seharusnya kita jabat erat tangan mereka, para label yg melestarikan sejarah musik Indonesia.
Mengenang kebesaran mereka, seperti memiliki sebuah kebanggan bahwa Indonesia pernah memiliki band berbasis brass-section dengan kualitas lagu yg solid dan nggak pasaran, di jaman nya. Sampai saat ini saya masih sulit menemukan band sejenis dari Indonesia dg konsep yg sama. Band ska, meskipun berbasis brass-section tdk masuk hitungan saya, karena pendekatan musik dan akar musik nya berbeda.
Iwan Kresnawan (drum) wafat di tahun 1974, Deddy Stanzah (bass,vokal) pada 23 Januari 2001, Delly Djoko Alipin (vokal,keyboard) pada 30 Oktober 2002 ,dan Raden Bonnie Nurdaya (vokal,gitar) pada 13 Juli 2003.
Gito Rollies wafat pada tahun 2008. Superstar yg ganas di era kejayaan TR ini, pada akhir hidupnya, mencitrakan diri sebagai bintang religius, dan aktif terlibat dalam kegiatan keIslaman. Sebuah akhir kisah yg mengagumkan dari seorang binntang, yang hedonis di masa kejayaan nya. @ffdarmawan (Referensi artikel dan foto dari tulisan Denny Sakrie (Republika) dan berbagai sumber)

Reuni The Rollies tahun 2005

Reuni The Rollies tahun 2005

DISKOGRAFI

The Rollies – The Rollies (Phillips,1968)
Hallo Bandung! – The Rollies (Philips,1969)
Let’s Start Again – The Rollies (Remaco,1971)
Bad News – The Rollies (Remaco,1972)
Sign Of Love – The Rollies (Purnama Record,1973)
Rollies Live Show TIM 2 & 3 Oct 1976 – The Rollies (Hidayat Audio, 1976)
Tiada Kusangka – The Rollies (Hidayat Audio,1976)
Keadilan – New Rollies (Musica Studios,1977)
Dansa Yok Dansa – New Rollies (Musica Studios,1977)
Bimbi (Vol.3) – New Rollies (Musica Studios,1978)
Kemarau – New Rollies (Musica Studios,1978)
Kerinduan – New Rollies (Musica Studios,1979)
Pertanda – New Rollies (Musica Studios,1979)
Rollies’83 (Mabuk Cinta) – Rollies (Sokha,1983)
Rollies (Astuti) – Rollies (Sokha,1984)
Rollies’86 (Problema) – Rollies (Sokha,1986)
Iya Kan? – Rollies (Sokha,1990)
New Rollies’97 – New Rollies (Musica Studio,1997)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s