Home

Saat pertama kali melihat sebuah album berjudul Trouble Maker dari sebuah band bernama Superkid, sebagai seorang anak kecil saya bisa menebak bahwa band itu pastilah populer saat itu. Hidup diantara sejumlah orang dewasa dalam sebuah keluarga besar, yg bukan kolektor album, keberadaan sebuah album dirumah itu pastilah ‘sesuatu’.
Sebuah album milik band bernama Superkid dg gambar cover kedua lengan tangan membentuk huruf x, tetap sebuah misteri sampai puluhan tahun ke depan dalam hidup saya. Pertanyaan yg muncul saat itu ttg ‘siapakah personil band nya?’, ‘apa jenis musik yg di mainkan nya?’, ‘bagaimana penampilannya diatas panggung?’. Pertanyaan yg tak terjawab dan terlupakan selama lebih dari 20 tahun kemudian.
Sampai pada suatu hari di tahun 2012, berarti 30 tahun kemudian, saya temukan album Superkid – Trouble Maker di rilis ulang dalam format cd. Ya, album yg sama dengan yg saya lihat lekat 30 tahun yg lalu, kini ada di hadapan saya. Album yg saya lihat ketika aku kecil, dan tak bisa berbuat apa apa selain membolak balik kaset dengan kepenasaran tinggi.
Hari itu, 30 tahun kemudian, saya tak ingin mengulang pengalaman yg sama. Dengan yakin saya ambil album itu dari rak, dan hell yeah saya membuka kotak misteri berusia 30 tahun!
Superkid terdiri dari Deddy Stanzah (Vokal, Akustik Gitar, Bass, Harmonika), Deddy Dores (Vokal, Gitar, Keyboard), dan Jelly Tobing (Drum). Dibentuk Maret 1975 di Bandung, dengan keterlibatan wartawan majalah musik Aktuil, Denny Sabri, sebagai manajer dan konseptor musik.
Kalau kalian hidup sebagai remaja di era 90-an awal seperti saya, ketiga personil diatas memiliki image yg berbeda. Deddy Stanzah, ia adalah rocker tua mirip Jagger dan kelak karena ketegantungan pada narkoba ia tak bisa mempertahankan eksistensinya di industri musik. Deddy Dores, damn, siapa sangka dia sangat rock di Superkid sbg gitaris. Dores saya kenal, di era 90-an, tak lebih dari pencipta lagu melankolis dan pengorbit penyanyi wanita. Di masa itu penyanyi yg sangat terkenal, hasil ‘karya’ Dores adalah Nike Ardilla -siapa tak kenal penyanyi cantik itu-. Lalu berderet nama penyanyi sejenis dengan hits karya Dores sekaligus pencari bakat. Jelly Tobing, well, dia pemain drum senior yg memecahkan rekor MURI, menabuh drum selama 10 jam tanpa henti sekitar tahun 1988 dan mengulangnya di tahun 2000.
Tapi okelah, ketika saya memasukan cd Superkid ke player adalah sebuah pengalaman melintasi jaman. Track pertama berjudul Trouble Maker, menyadarkan saya betapa rock nya mereka. Dentuman bass dan drum disusul distorsi gitar, layaknya permainan Grandfunk Railroad (band Amerika yg terkenal di era 70 an). Track berikutnya, beberapa masih memainkan repertoar dari Rolling Stones, Deep Purple, dan mungkin masih ada beberapa dari band yg saya tak kenal. Hey, ada lagu Honky Tonk Woman, hits nya Rolling Stones di album ini. Karakter vokal Deddy Stanzah sangat Jagger, jika kalian anak muda tahun 2000 an, maka akan terdengar seperti -siapa itu vokalis Changcuter?
Sebagian lagu di album ini berbahasa Inggris, dan merupakan repertoar dari band asing yg sedang top dimasa nya. Jika kalian mencoba memahami referensi musik rock era 70 an seperti Rolling Stones, Grandfunk, Deep Purple, dan sejenisnya, maka kalian akan memahami bahwa Superkid memiliki skill bermusik yg mencoba mengejar kualitas super band luar negeri, dan yes mereka berhasil mencapai tahap itu. Cukup mendengarkan debut album Trouble Maker ini, kita bisa merasakan sensasi band yg sempat merajai pangungg musik tanah air masa itu.

Wow, Deddy Dores dengan gitar dua leher! (foto dari gwmusic.wordpress.com)


Saya kutip dari blog gwmusic.blogspot.com, Superkid adalah band yang sangat cadas diatas panggung. Kharisma Deddy Stanzah mampu menghipnotis penonton dg gayanya yg identik dg Mick Jagger. Deddy Dores, tak bisa dipercaya, di Superkid dia memainkan gitar dengan sadis. Aksi menghancurkan gitar diatas panggung, adalah salah satu menu live show nya. Mungkin ia salah satu gitaris, dari sedikit gitaris dunia yang menggunakan gitar double-neck gitar dengan dua kepala (saya kira di jaman itu hanya Jimmy Page nya Led Zeppelin yg memainkan gitar seperti itu).
Jelly Tobing, dia sudah sakti sejak awal. Permainan drum nya sangat penuh tenaga dan berkecepatan tinggi. Aksi memukul drum hingga stik nya patah, adalah salah satu moment yg lekat di ingatan penonton konser mereka saat itu.
Band ini tidak berusia panjang. Dibentuk pada bulan Maret 1975, dan membubarkan diri pada tahun 1978. Mereka menghasilkan 3 album, Trouble Maker, Dezember Break, dan Preman.
Dengan modal skill bermusik yg mereka miliki, seharusnya mereka bisa sebesar GodBless di masa depan. Konon, kebiasaan buruk Stanzah yg tergantung pada psikotropika, membuat band ini tidak bisa menjaga konsistensi nya. Padahal mereka sudah memulainya dengan benar, dan sudah super sejak pertama kali kemunculannnya.
Apa daya, Dores memutuskan membentuk band Freedom of Rhapsodia, band yg kelak ia sadari tak bisa menopang kehidupan ekonominya. Ia lebih sukses mengorbitkan penyanyi wanita muda berparasa cantik, dengan lagu mendayu dayu -meski tetap ada nuansa distorsi gitar Dores di lagu lagunya.
Satu hal yang menarik dari Superkid adalah, mereka membuat lagu dalam bahasa Indonesia -di debut album Trouble Maker- terlalu mendayu dayu dan terasa Deddy Doresnya. Dengarkan saja lagu Ku Kan Kembali, Diriku Berjanji, dan Janji Suci. Mungkin mereka ingin menciptakan hits di radio atau lagu yg layak di tampilkan di televisi. Kalau saya hidup di era itu, saya memilih menyaksikan keganasan mereka diatas panggung daripada mendengarkan slow hits mereka.
Album ini saya rasa kurang konsisten dalam karakter musiknya. Di beberapa track, mereka jelas jelas mencoba menjadi rock dengan referensi band rock saat itu. Entah kenapa muncul lagu lagu yg terlalu melankolis disini. Bisa jadi mereka mencoba membuat radio hits, atau musik yang layak tampil di tv. Harus diingat bahwa sensor pemerintah orde baru, tidak mentolerir keganasan musik rock di media mainstream. Apa boleh buat, mereka hidup di era 70 an.
Meski usianya tidak panjang, band ini sangat membekas di ingatan para penikmat musik rock di masa itu. Sejumlah konser di sejumlah kota, berhasil membuat nama mereka semakin disegani sbg ‘raja’ konser.
Selain aksi panggung nya yg dahsyat, band ini mendapat porsi publisitas yg amat gencar di majalah Aktuil (majalah musik paling top saat itu). Maklumlah, sang manajer band, Denny Sabrie, adalah wartawan sekaligus pionir di majalah tsb. Bisa jadi, salah satu yang membuat nama Superkid melesat dalam waktu singkat adalah karena ini.
Mereka melakukan reuni di tahun 1988, dan melempar album Gadis Bergelang Emas. Tapi relatif kurang berhasil mengembalikan kejayaan mereka di masa lalu. Kabarnya, produser mereka sudah tidak memiliki idealis lagi, dan lebih tertarik menggarap penyanyi berwajah cantik. Selain itu, Deddy Stanzah lagi lagi, masih terjebak dalam cengkraman obat obatan, sehingga membuat tidak konsistennnya aktifitas bermusik mereka.
Deddy Stanzah meninggal tahun 23Januari 2001 karena penyakit yang di deritanya. Sebagai ikon musik rock, karir bermusiknya bisa dikatakan anti klimaks. Ia sempat menghasilkan album solo berjudul Paradox, dan sering tampil bersama band Time Bomb Blues. Kabarnya ia bahkan pernah menjadi road crew band Slank (?), cukup tragis jika mengingat ia adalah superstar bahkan ketika personil Slank belum berusia balita.
Deddy Dores, kita kenal sekarang ia seorang pencipta lagu melankolis, dikelilingi calon penyanyi gadis muda yang sebagian ia jadikan istri muda. Tak ada sisa keganasan rock star di sosok Dores saat ini. Tak apalah, setidaknya ia masih bisa hidup mapan.
Jelly Tobing, ia masih eksis di dunia musik. Pernah mencoba menghidupkan kembali Superkid, tapi tak terasa gema nya.
Lupakan saja kisah hidup mereka kemarin dan saat ini. Yang penting saya bisa menikmati album Superkid, album yg ingin saya dengarkan 30 tahun lalu. Dirilis oleh Bravo Musik di tahun 2012, kalian mungkin masih bisa menemukannya di toko cd saat ini. Mengingat berharganya peran mereka di kancah musik rock tanah air, jangan beli cd bajakan ya Man. @ffdarmawan.
(sumber foto & artikel sebagian dari gwmusic.wordpress.com)

8 thoughts on “Superkid, band berpersonil anak anak super

  1. yah .. sayang dedy sutansyah nggak sempat bareng tobat dan bareng dakwah gito rollies ya ..
    sekitar tahun ’83 saya sempat liat dia manggung (solo) bawain stones .. terus manggung di gelora saparua bandung kemudian di sekitar tahun itu juga manggung bareng groupnya bawain lagu van halen album 5150 di karangsetra bandung ..
    terus dia agak gemukan waktu nonton basket di unpad sekitar tahun ’85 .. pokoknya badannya gonta ganti gembung kempes .. .. terus kayaknya sempat buka kursus musik di jalan supratman bandung .. yah begitulah .. akhir hidupnya sangat disayangkan … semoga sempet tobat ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s